Makruh, banyak sekali yang meremehkannya. Dengan berbagai alasan. Ada yang berkata “hukumnya kan baru makruh. Bukan haram.” Masyarakat sekarang lebih mudah menggampangkan suatu hukum. Sebelum membahas lebih jauh lagi tentang makruh. Dasarnya perlu kita ketahui terlebih dahulu. Makruh termasuk dalam hukum taklify.
Hukum Taklify (pembebanan syariat) terbagi menjadi lima :
.
Wajib,
Mandub/Sunnah/Nafilah,
Haram,
Makruh, dan
Mubah.
Sebagian ulama membaginya menjadi tujuh macam :
Fardhu,
Wajib,
Mandub/Sunnah,
Makruh Tanzihiyan,
Makruh Tahrimiyan,
Haram dan
Mubah.
Definisi Makruh
Makruh menurut bahasa berarti yang tidak disukai. (CyberMQ)
Menurut istilah syara’, makruh berarti: “Pekerjaan yang dituntut untuk ditinggalkan dengan tidak kita rasakan bahwa akan disiksa apabila mengerjakannya.” (CyberMQ)
BAGIAN paling rendah dalam rangkaian perkara-perkara yang dilarang adalah perkara makruh; yaitu makruh tanzihi Sebagaimana diketahui, makruh ini ada dua macam(tahrimi dan tanzihi);
Makruh tahrimi ialah perkara makruh yang lebih dekat kepada haram;
Makruh tanzihi ialah yang lebih dekat kepada halal. (Yusuf Qardhawi)
perkara yang apabila ditinggalkan kita mendapatkan pahala, dan apabila dikerjakan tidak mendapatkan dosa.
Makruh kadang berarti haram. Sebagaimana Imam Syafi´i jika mengatakan : ” saya menganggap hal ini makruh ” maksudnya adalah haram . Sikap seperti ini didasarkan kepada kehati-hatian di dalam mengistinbatkan suatu hukum (Ahmad Zain)
.
Ada beberapa pendapat ulama dalam mendefinisikan makruh. Dari segi bahasa dapat diartikan sebagai hal yang dibenci, atau yang tidak disukai (hated or disliked). Tentu saja kita tidak ingin dibenci oleh siapapun, terutama Allah. Bagaimana mungkin kita mengaku beriman, cinta, dan taat pada Allah, namun kita justru lebih menyukai hal-hal yang dibenci oleh Allah. Makruh juga bisa berarti haram. Ini merupakan sikap kehati-hatian para ulama. Ini dikarenakan Allah berfirman, yang artinya :
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” ( QS An Nahl : 116 )
Jadi jangan merasa aman jika kita melakukan sesuatu yang makruh. Sudah seharusnya kita meninggalkan sesuatu yang dibenci oleh Allah.
Kalau memang ada hal-hal yang meragukan (kita tidak tau halal atau haramnya), maka lebih baik kita tinggalkan. Hal ini dijelaskan dalam Hadis Riwayat Bukhori dan Muslim artinya berbunyi :
Dari Abu Abdillah Nu´man bin Basyir radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya disekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “.
.
Dari penjelasan diatas, mari kita ambil satu contoh yang sering dipertentangkan hukumnya, rokok. Sebagian menghukuminya dengan makruh, dan ada pula yang menganggapnya haram. Yang jelas tidak ada seorang ulamapun yang berani menyatakan bahwa rokok itu halal. Karena itu, kalaupun ini makruh, pasti masuk dalam golongan makruh tahrimi (makruh yang lebih dekat kepada haram). Dan ini merupakan suatu yang syubhat, kalau kita mengacu pada hadis diatas, maka tinggalkanlah.
4 Feb 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar